Takut Yang Membawa Berkat (Maz 128:1-6)

Mazmur 128: 1- 6

Takut Yang Membawa Berkat

Kita hidup dalam zaman dimana ketakutan dan kecemasan menghantui. Persoalan pribadi yg datang silih berganti; belum lagi persoalan yg datang dari luar diri kita sendiri. Ketakutan secara menerus bisa  membuat banyak orang kehilangan semangat dan tujuan hidup, rusaknya mental dan psikologis bahkan hubungan spiritualitasnya kepada Tuhan.

Tetapi dalam Alkitab ada ketakutan yang bersifat positif dan membawa berkat. Pemazmur mengajak kita untuk takut kepada Tuhan. Kalau ini dilaksanakan maka akan membawa berkat. Takut akan Tuhan adalah perwujudan dari sikap hormat, takjub, kagum akan Tuhan dan segala karya-Nya, baik itu berupa keselamatan maupun terhadap dunia ciptaan-Nya. Dari sana berangkat pujian, penyembahan dan ibadah. Rasa takut itu juga bisa berarti adanya perasaan gentar berhadapan dengan Allah yang Maha Kudus yg membenci dosa. Berangkat dari sana kita menyelaraskan hidup ini sesuai dengan kehendak dan Firman Tuhan.

Dalam renungan kali ini, takut akan Tuhan tercermin dalam sikap hidup di dalam pekerjaan dan hubungan rumah tangga. Orang yang takut akan Tuhan diberkati pekerjaannya. Berkat dalam arti materi dan berkat untuk menikmati hasil pekerjaannya. Tanpa berkat Tuhan, banyak orang bisa bekerja keras, berhasil; tetapi tidak dapat menikmatinya karena berbagai penyakit yang diderita, mungkin juga karena ditipu orang dan sebab-sebab lain, sehingga apa yang dihasilkan habis seperti karung bolong yang diisi tanpa pernah penuh. Dengan berkat Tuhan hasil kerja dapat dinikmati.

Sejalan dengan itu, orang yg takut akan Tuhan maka rumah tangganya akan diberkati. Ia akan memiliki dan mewarisi keluarga dan keturunan yang benar-benar menjadi kebanggaan dan harta termahal. Istri dan anak-anaknya adalah sukacitanya (bukan beban). Istrinya bagaikan pohon anggur yang subur, itu berarti istrinya menjadi sumber sukacita di tengah rumah tangga.(bnd. Hakim-Hakim 9:13). Anggur adalah gambaran dari sukacita dan cinta-kasih. Istri-istri akan menjadi pohon anggur yg subur apabila suami-suami atau kepala keluarga takut akan Tuhan. Kalau ada istri yg suka mengomel, kemungkinan besar suami belum takut kepada Tuhan. Sebab apabila suami takut akan Tuhan, maka istrinya akan Tuhan pulihkan menjadi pohon anggur yg subur.

Sedangkan anak anaknya bagaikan pohon zaitun mengelilingi mejamu, ini mau menunjuk kepada anak-anak yg berguna bagi orang tua dan bagi Tuhan. (bnd. Hakim- Hakim 9:9). Minyak zaitun digunakan untuk mengurapi dan juga untuk obat. Bagi bapak-bapak yang takut akan Tuhan, anak-anaknya menjadi sesuatu yang istimewa, yang bisa mengobati dan mengurapi.  Anak-anak adalah tunas pohon zaitun yaitu potensi masa depan. Karena itu anak-anak harus di didik dalam Tuhan karena anak-anak merupakan penunjang berkat Tuhan bagi keluarga orang percaya.

Bila ini telah dibangun di dalam takut akan Tuhan, maka damai sejahtera di bumi akan terpelihara. Oleh karena itu, buanglah rasa takut yang negatif dan merusak kesehatan jiwa, lalu bersamaan dengan itu kembangkan takut yang positif, takut kepada Tuhan yaitu takut yg membawa berkat. Amin.

Pdt. Jhon Seven, S.Th

Tags:

Comments are closed.